Ena
Kresna Civilianto
Putra dari
Alm. Bapak Sriyono & Ibu Sinta Asthika
serta Bapak Bartholomeus Hubregt Cornelis Lut
Ria
Nurria Susilowati
Putri Pertama dari
Bapak Djukri Sudjono
& Almarhumah Ibu Wiratmawati
2022 — Episode 1
Ruang IGD & Takdir yang Menyembuhkan
Di tengah perjalanan kami yang saat itu sama-sama sedang menyembuhkan luka masa lalu, sebuah sapaan sederhana di media sosial menjadi awal dari segalanya. Di masa awal perkenalan, Ena sempat berjanji kelak akan membawa Ria ke Leiden, Belanda—sebuah kalimat yang saat itu hanya Ria tanggapi dengan tawa karena mengiranya bualan belaka. Namun, takdir memiliki cara paling sunyi untuk mendekatkan kami. Setelah berkali-kali rencana bertemu gagal, pada 13 Oktober 2022, semesta justru mempertemukan kami di ruang IGD RS Borromeus karena kami mendadak jatuh sakit bersamaan. Di ruang yang dingin itulah, tanpa sekat dan kepura-puraan, kami saling melihat dalam kondisi paling rapuh, bersandar sejak hari pertama untuk saling menyembuhkan.
2023 — Episode 2
Secangkir Lasagna & Doa yang Terbawa Angin
Hubungan kami tumbuh menjadi jangkar di tengah badai. Kami berkomitmen untuk saling menjadi support system terbaik; Ria setia menemani Ena melewati masa-masa sulitnya, begitu pun Ena yang menjadi kekuatan terbesar saat perusahaan Ria menghadapi badai layoff besar-besaran. Di tahun ini, dengan penuh kebanggaan, Ena membawa Ria ke hadapan keluarga besarnya dan berseloroh spontan, "Ini istri saya." Sebuah ucapan manis yang tanpa kami sadari sedang diaminkan oleh semesta. Tepat setahun setelah pertemuan IGD, 13 Oktober 2023, Ena memberanikan diri menyatakan cinta di sela makan malam lasagna, yang lucunya sempat terdistraksi karena Ria terlalu fokus menikmati makanan. Namun ketulusan tak pernah kehilangan jalan; pada 11 Desember 2023, kami resmi berkomitmen. Tak butuh waktu lama bagi Ena untuk membuktikan keseriusannya, ia langsung mengundang Ria ke Leiden demi menemui ayah angkatnya, Bartholomeus Hubregt Cornelis Lut. Janji yang dulu dikira gombalan, kini mulai kami wujudkan dengan seluruh jiwa.
2024 — Episode 3
Manifestasi Janji & Rentetan Keajaiban Semesta
Gombalan masa lalu itu akhirnya menjelma menjadi kenyataan yang megah saat kami bersiap terbang ke Belanda dan Jerman. Di sinilah semesta seolah mengambil alih kendali dan menghujani perjalanan kami dengan rentetan keajaiban nyata: dokumen visa kami selesai secara mustahil dalam 5 hari kerja dari yang biasanya memakan waktu 3 minggu, perjalanan udara berjalan begitu mulus, hingga kursi pesawat yang kami beli terpisah dengan selisih waktu 3 bulan secara ajaib bisa berdampingan. Namun, mukjizat paling menggetarkan jiwa adalah saat penerbangan membawa kami transit di Turki tanpa pernah kami rencanakan. Di situlah air mata kami tumpah, menyadari bahwa itu adalah cara indah Tuhan untuk mewujudkan impian terdalam almarhumah Ibu Ria—membawa memori, kerinduan, dan restu hangat beliau ikut mendekap langsung perjalanan cinta kami.
2025 — Episode 4
Ketulusan di Tengah Luka & Hangatnya Dua Rumah
Tuhan kembali menjahit kedekatan kami lewat jalan yang tak terduga. Dua hari sebelum kami menghadiri pernikahan sahabat di Indramayu, adik Ria mengalami cedera serius hingga harus dioperasi. Momen merawat sang adik di rumah Ena justru menjadi pintu berkah; ketulusan dan ketelatenan Ena perlahan melunakkan dan memenangkan hati Ayah Ria sepenuhnya. Keheningan bulan Agustus 2025 seketika berubah menjadi debar tak bertepi saat Ena menatap mata Ria dan bertanya, "Kamu senang cincin tipe apa? Aku mau melamar kamu tahun depan." Sebuah kalimat penuh kepastian yang membawa kami pulang ke Yogyakarta dan Purworejo di bulan Desember. Di tanah tempat dimakamkannya mendiang ayah Ena, dan di hadapan keluarga besar mendiang Ibu Ria, dua keluarga besar kami resmi saling memeluk dan menyatukan restu.
2026 — Episode Final
Menjemput Takdir pada 26 Juni 2026
Awal tahun ini terasa begitu berkesan saat Ena mendampingi Ria menghadiri pernikahan sepupu di Padang. Di momen spesial itulah, Ena perlahan melebur dengan begitu natural dan disambut dengan pelukan hangat oleh seluruh keluarga besar dari pihak Ayah Ria, menandai langkahnya menjadi bagian dari kami. Kini, hati kami telah bulat memilih 26 Juni 2026 sebagai pelabuhan suci tempat kami mengikat janji. Menjelang hari bahagia ini, kedewasaan kami kembali diuji oleh ketegangan dunia yang sempat mengancam penerbangan orang tua Ena dari Belanda. Namun hari ini, kami berdiri dengan rasa syukur yang membubung ke langit. Di atas segala jarak ribuan kilometer, air mata, dan badai yang sempat membayangi, semesta meluruskan jalan kami. Langkah kaki yang dimulai dari dinginnya ruang IGD Borromeus, sepotong lasagna, hingga melintasi benua, akhirnya bermuara di sini. Hari ini, kedua keluarga besar kami berkumpul utuh tanpa kurang satu apa pun, siap menyaksikan kami memulai babak baru untuk saling menetap selamanya.
Ucapan Selamat & Do'a